Osteoporosis Pada Pasien Jiwa

Osteoporosis Pada Pasien Jiwa

Osteoporosis adalah kondisi menurunnya kepadatan tulang yang menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Gejalanya baru diketahui ketika jatuh atau mengalami cedera yang menyebabkan patah tulang. Osteoporosis bisa dialami oleh anak-anak dan orang dewasa. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita yang telah memasuki masa menopause daripada laki laki karena berkurangnya kadar estrogen yang berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang. Seiring berkurangnya kepadatan tulang, penderita osteoporosis bisa mudah mengalami patah tulang, nyeri punggung, postur badan membungkuk dan tinggi badan berkurang.

Pasien dengan gangguan jiwa merupakan orang yang beresiko mengalami osteoporosis. Studi di Inggris menyebutkan dari terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara peningkatan prolaktin dengan patah tulang pada pasien jiwa. Disebutkan bahwa terdapat risiko patah tulang 2,5 kali lipat pada wanita pramenopause dengan gangguan psikotik dengan tingkat patah tulang pinggul 5,1 kali. Pada remaja perempuan dengan kecemasan memiliki BMD (Bone mass density) tulang pinggul yang lebih rendah. BMD di tulang belakang lumbar pada wanita dengan depresi dan gangguan kepribadian ambang lebih rendah dibandingkan dengan wanita dengan depresi saja. Anak perempuan yang menderita anoreksia nervosa disertai depresi dilaporkan juga memiliki BMD lebih rendah daripada anak perempuan dengan anoreksia nervosa saja. Pria, dengan depresi dan distimia yaitu suatu bentuk gangguan depresi kronis, memiliki BMD yang lebih rendah pada pinggul dibandingkan pria yang hanya mengalami depresi.

Kerapuhan tulang ini dilaporkan dipengaruhi oleh faktor genetik, jenis kelamin terutama perempuan, usia tua, ras kulit putih atau Asia dan riwayat keluarga. Selain itu dipengaruhi oleh faktor lain yang bisa dimodifikasi yaitu, merokok, kurangnya aktivitas fisik (karena negativistik, depresi), asupan kalsium diet yang buruk, defisiensi vitamin D (karena paranoid) dan gejala penyakit lainnya. Disebutkan bahwa pada kondisi inaktifitas terjadi penurunan masa tubuh, massa lemak, massa tulang dan komposisi air tubuh. Selain itu terjadi gangguan penurunan metabolisme seperti metabolism basal, toleransi terhadap glukosa, glikogen otot, balans kalsium dan LDL Kolesterol.

Sehingga pada pasien jiwa perlu diberikan latihan otot, penguatan tulang termasuk asupan gizi yang cukup seperti vitamin D, protein dan kalsium, dan perubahan perilaku seperti berhenti merokok dan konsumsi kopi dan meningkatkan aktivitas sehari hari sehingga massa tulang dan otot bertambah untuk menghindari resiko jatuh dan patah tulang.(dari berbagai sumber).