CYBERCHONDRIA
CYBERCHONDRIA

Oleh : dr. Dini Indriany, Sp.Kj
Cyberchondria yaitu kondisi seseorang yang memiliki kecenderungan untuk mencari informasi kesehatan di internet kemudian menimbulkan efek kecemasan yang berlebihan.
Kenapa ini bisa terjadi ?
- Perkembangan tekhnologi terus meningkat, berdampak pada penyebaran informasi, salah satunya bidang kesehatan
- Pencerian informasi kesehatan di internet telah menjadi sangat umum
- 80% pengguna internet mencari informasi kesehatan secara online. Sebagian diantaranya menggunakan hasil pencarian untuk mendiagnostik dirinya sendiri.
- Wanita 2x lebih banyak dari pria dalam mencari informasi kesehatan secara online.
Tren ini tidak mengherankan karena :
- Internet mudah.
- Cepat diakses.
- Biaya sedikit.
- Tidak ada birokrasi yang menyulitkan,surat rujukan dan daftar tunggu untuk berkonsultasi dengan praktisi kesehatan.
- Anonimitas, yang membuat seseorang dapat mencari informasi kesehatan tanpa merasa malu.
Gambaran klinis :
- Pasien memeriksakan secara online untuk informasi mengenai gejala suatu penyakit, sebanyak 1-3 jam per hari.
- Mencoba untuk meyakinkan diri sendiri dengan melakukan pencarian secara online meski secara medis kondisi kesehatan sebenarnya stabil.
- Mencari tanda-tanda dan gejala penyakit tertentu, dan mencoba untuk mencocokkan dengan apa yang dibaca pasien di internet.
- Merasa khawatir bahwa memiliki gejala penyakit yang mirip sesuai dengan yang tertera dalam web.
- Memiliki kesulitan dalam membedakan antara sumber informasi online yang kredibel dan tidak dapat dipercaya.
- Kegelisahannya bertambah ketika ia membaca informasi mengenai keluhan atau penyakit tersebut.
Penatalaksanaan :
- Cek gejala di internet tidak apa-apa, namun tetap perlu mendiskusikan dengan dokter/professional agar penyakit dapat dengan tepat didiagnosis.
- Tidak semua informasi kesehatan itu akurat dan valid. Carilah informasi kesehatan dari website terpercaya dan berkualitas seperti informasi yang ditulis oleh pemerintah atau tenaga kesehatan.
- Jika googling terlalu banyak hanya membuat semakin cemas, maka perlu dihentikan. Batasi waktu penggunaan internet.
Terapi non farmakologi : Terapi kognitif perilaku
- Merestrukturisasi dan mengevaluasi pikiran pasien untuk lebih rasional dibandingkan dengan interpretasi pikirannya.
- Memperkuat kepercayaan diri, dan mengurangi risiko gangguan pskiatri seperti kecemasan terhadap kesehatan maupun obsesif komplusif.
Terapi Farmakologi :
- Anti depresan untuk mengendalikan dorongan dan pengulanan kompulsif.
- Antipsikotik atipikal untuk mengurangi impulsivitas
















