Kecanduan Gawai Pada Anak dan Penanganannya
Kecanduan Gawai Pada Anak dan Penanganannya
KAB BANDUNG BARAT - Penggunaan gadget/ gawai menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan saat ini yang memerlukan mobilitas tinggi. Penggunaan gawai secara bijak merupakan media yang berpotensi besar memberi manfaat positif bagi tumbuh kembang anak. Namun diluar potensi positifnya, gawai juga memliki potensi negatif yang besar dengan segala bahaya, resiko yang terdapat di sana.
Penggunaan gadget/gawai ini telah mengubah cara orang untuk bersosialisasi, belajar, bekerja, belanja, mencari pekerjaan, dan memanfaatkan waktu luangnya. Dampak positif penggunaan gadget/gawai antara lain anak belajar mengeksplorasi, melatih kognitif,meredakan ketegangan (hiburan), berafiliasi dengan teman sebaya. Tetapi adapula dampak negarif yang ditimbulkan oleh penggunaan gadget/gawai yaitu jika berlebihan dapat mengganggu kehidupan keluarga, pekerjaan, pendidikan, tidur, hobi, dan hubungan sosial.
Sehubungan dengan hal tersebut Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana bekerjasama dengan RS Jiwa Provinsi Jawa Barat dan beberapa narasumber lain yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan, mengedakan pertemuan melalui zoom meeting dengan diikuti berbagai unsur lingkup pendidikan, ormas keagamaan, PKK se-Jawa Barat. Zoom meeting tersebut dimulai pukul 08.00 sd 12.00 dengan tema “ Kondisi Kecanduan Gawai Pada Anak dan Penanganannya “
Acara zoom meeting dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Barat UU Ruzhanul Ulum, lalu dilanjutkan oleh narasumber pertama dr. Siska Gerfianti, M.H.Kes dengan tema Setangkai (Sekolah Aman Menggunakan Gawai) “ sebagai solusi upaya preventif kecanduan gawai.
Narasumber kedua Dr. Teddy Hidayat, SpKJ (K), memberikan materi tentang Deteksi Dini Kecanduan Gawai. Narasumber ketiga, dr. Lina Budiyanti, SpKJ (K) membahas tentang Penanganan Kasus Kecanduan Gawai pada Anak di UPTD RSJ Provinsi Jawa Barat.
Dalam paparannya dr. Lina Budiyanti, SpKJ (K) menjelaskan jenis-jenis kecanduan internet antara lain kecanduan media social, CyberSex & CyberPorn, Online shop dan judi, lalu games online. Tanda – tanda anak mengalami dampak buruk akibat penggunaan gadget yang berlebihan antara lain, Kemampuan untuk fokus dan menyelesaikan tugas sekolah terganggu, Berdampak negatif terhadap hubungan dengan anggota keluarga dan teman sebaya, menjadi prioritas dalam kehidupan sehari-hari, bahkan bisa mengabaikan kebutuhan dasar seperti makan, tidur, perawatan diri dan olah raga, perubahan signifikan dalam suasana hati atau kemampuan seseorang untuk mengendalikan ledakan emosi (mis. Agresifitas) ketika diminta untuk berhenti. Sehingga seseorang yang mengalami kecanduan internet terkadang harus menerima konsekuensi negatif antara lain perubahan emosi (mudah marah, tersinggun, merasa bosan, gangguan tidur dan kualitas tidur yang buruk, depresi, cemas, risiko bunuh diri, Keluhat fisik dan nyeri dan lain sebagainya.
Ia menambahkan, pada Januari hingga Desember tahun 2020 silam jumlah anak yang kecanduan gadget sebanyak 8 orang rentang usia 9 hingga 15 tahun. Terdiri dari tujuh orang laki-laki dan satu orang perempuan.
Pada Januari hingga 19 Maret tahun 2021, jumlah anak yang kecanduan gadget mencapai 9 orang rentang usia 13 hingga 16 tahun. Terdiri diri dari 8 orang laki-laki dan satu orang perempuan.
"Kebanyakan laki-laki," kata Lina seraya menambahkan belum ada anak yang kecanduan gadget menyebabkan meninggal dunia.
Pada 2020 sebanyak 104 orang anak dan remaja mengalami masalah kejiwaan dan terdampak kecanduan games di gadget dan sebanyak 8 orang di antaranya murni karena kecanduan gadget. Mereka menjalani pengobatan rawat jalan.
"Total kunjungan 104 dengan masalah kejiwaan dan terdampak adiksi game, tidak murni game," katanya.
Lina mengatakan pengobatan kepada anak akan bergantung kepada kondisi berat dan ringannya tingkat kecanduan. Namun secara umum, jika pengobatan dilakukan secara konsisten dan pola asuh yang baik maka akan terus membaik.
“Jika anak mengalami masalah akibat penggunaan gadget yang tidak bisa ditangani sendiri oleh orang tua, sebaiknya dikonsultasikan kepada profesional di bidangnya “. Ujar Lina
















