Sejarah

Berdasarkan amanat  Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, maka RS Jiwa Bandung dan RS Jiwa Cimahi  digabung menjadi satu Rumah Sakit Jiwa yang diberi nama RS Jiwa Provinsi Jawa Barat dan Susunan Organisasi dan Tata kerja Rumah Sakit ditetapkan dengan Perda Provinsi Jawa Barat  No. 23 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata kerja Rumah Sakit Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Sejarah Singkat Rumah Sakit Jiwa Bandung

Sebelum perang dunia ke II, tempat perawatan dan pengobatan pasien gangguan jiwa di Kota Bandung hanya ada satu yaitu Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin, yang dulu terkenal dengan sebutan Rumah Sakit Ranca Badak. Rumah Sakit tersebut bukan Rumah Sakit Khusus untuk pelayanan gangguan jiwa, tetapi merupakan Rumah Sakit Umum yang  terdapat bagian “Neuro-Psychiatrisch Klinick”, yang lebih lajim disebut oleh pegawai-pegawai dengan nama “Blok Zaal” Rumah Sakit Umum Ranca Badak. Bagian inilah yang melayani perawatan dan pengobatan pasien penderita gangguan jiwa.

Pada periode tahun 1946-1947, didirikan tempat perawatan di sebuah rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya  di  Riouw  Straat No. 11  (sekarang Jl. L L. R. E.  Martadinata No. 11), dengan tujuan untuk menerima pasien yang tidak dapat ditampung di Blok Zaal Rumah Sakit Ranca Badak (sekarang Rumah Sakit Hasan Sadikin). Pada mulanya tempat ini diberi nama sama seperti pada bagian di Rumah Sakit Hasan Sadikin, yaitu “Neuro Psychiatrisch” dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 35 tempat tidur dan dipimpin oleh seorang Psikiatrik berkebangsaan Belanda, Dr. GJ. Crans, dengan perkembangannya, jumlah kapasitas tempat tidur tidak mencukupi lagi, sehingga dilakukan penambahan 20  tempat  tidur bertempat di Jl. Aceh No. 61 Bandung (sifatnya sementara). Karena tuntutan masyarakat, dari tahun ketahun jumlah kapasitas tempat tidur terus bertambah, sehingga tahun 1998 menjadi 100 tempat tidur, demikian pula dengan nama Rumah Sakit. Dari tahun 1950, nama Rumah Sakit tersebut diubah  menjadi “Rumah Perawatan Jiwa”.

Melalui seminar kesehatan jiwa yang pertama pada tanggal 10-15 Februari 1969 di Bogor, namanya berubah lagi menjadi “Pusat Kesehatan Jiwa Bandung” (Mental Health Centre Bandung).

Pada  tahun  1978  dengan  keluarnya  Surat  Keputusan Menteri Kesehatan RI, tanggal 28 April 1978, No. 135/Men.Kes/SK/IV/78, nama tersebut diganti menjadi “Rumah Sakit Jiwa Bandung”. Dalam perjalanannya Rumah Sakit jiwa Bandung telah lulus Akreditasi penuh dengan 6 Pelayanan pada  Tahun 2002 dan Tahun 2006 lulus akreditasi penuh tingkat lanjutan dengan 12 Pelayanan.

Memasuki era otonomi daerah, Rumah Sakit Jiwa Bandung kepemilikannnya berpindah dari Departemen Kesehatan RI ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat, berdasarkan PERDA No. 6 tahun 2002, Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 16 Tahun 2000, Tentang Lembaga Teknis Daerah Provinsi Jawa Barat, dan nama Rumah Sakit pun berubah dari Rumah Sakit Jiwa Pusat  Bandung menjadi Rumah Sakit Jiwa Bandung.

Dengan kepindahan Rumah Sakit Jiwa Bandung dari Departemen Kesehatan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Direktur Rumah Sakit bertanggung Jawab kepada Gubernur Provinsi Jawa Barat. Dan sumber pendanaan berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja  Daerah (APBD). Pada Tahun 2009 dilakukan penggabungan (merger) antara Rumah Sakit Jiwa Bandung dengan Rumah Sakit Jiwa Cimahi menjadi satu Rumah Sakit dengan nama Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat   

 

Sejarah Rumah Sakit Jiwa Cimahi

Pelayanan kesehatan Jiwa di Indonesia pertama kali dengan dimulainya pembangunan “Krankzinnigen Gesticht“ di zaman Penjajahan Kolonial Belanda pada tahun 1882 di Buitconzorg (Bogor). Setelah itu disusul dengan pendirian institusi serupa di Lawang dan Magelang. Pada Jaman Penjajahan Hindia Belanda dikenal 4 bentuk Rumah Sakit Jiwa atau fasilitas pelayanan untuk pasien gangguan jiwa, yaitu :

  1. Krankzinnigen Gesticht (Rumah Sakit Jiwa Pusat) yang merupakan rumah sakit jiwa besar (Pusat dari rumah sakit jiwa yang kecil - kecil) yang dipimpin langsung oleh seorang Neuro - Psikiater yang terdapat di Bogor, Lawang dan Magelang.
  2. Doorganghuis, merupakan rumah sakit jiwa “ perantara “ yang dipimpin oleh seorang Dokter.
  3. Veerpleegtehuis, yang merupakan rumah perawatan pasien jiwa yang dipimpin oleh seorang perawat.
  4. Kolonie, yang merupakan tempat penampungan pasien mental kronik

 

Berdasarkan Surat Panitia Pembelian Tanah Negara kepada Kepala Jawatan Kesehatan Inspectie Jawa Barat No. 1663 / 16 / B / 54 telah ditinjau sebidang tanah yang terletak di Kabupaten Bandung (Cisarua) yang diatas persil tersebut terdapat bangunan untuk “Boorderij“ sapi kepunyaan seorang bernama Eyseling. Dan dalam surat dari Jawatan Rumah Rumah Sakit jiwa Kementrian Kesehatan RI kepada Kepala Bag. G Kementrian Kesehatan dikemukakan bahwa didaerah Priangan sangat di butuhkan suatu Rumah Sakit Jiwa yang lengkap dengan halaman - halaman yang agak luas untuk “Werktherapie“ penderita sesuai dengan surat Kementrian Kesehatan RI No. 5242 / Bdg / U tanggal 1 Oktober 1954.

Dalam surat Pemimpin Jawatan Rumah Rumah Sakit Jiwa Kementrian Kesehatan RI kepada JM Menteri Kesehatan di Djakarta dikemukakan pula bahwa “perceel“ tersebut amat cocok dan memenuhi sarat untuk didirikan sebuah Rumah Perawatan Sakit Jiwa, dan dengan demikian dapat dipindahkan Rumah Perawatan Sakit Djiwa Djalan Riauw Bandung yang sama sekali tidak memenuhi sarat untuk pemeliharaan/ perawatan penderita penyakit jiwa yang disamping itu dapat dibangun suatu koloni yang dapat menampung beratus ratus “Uitgedoofde Kraters“ mengingat luasnya perceel tersebut yang tidak kurang dari 21 Ha. Karena pada waktu itu Koloni Lenteng Agung sudah tidak memenuhi harapan untuk dapat menampung lagi beratus ratus uitgedoofde kraters.

Atas nama Kementrian Kesehatan RI dengan suratnya No. 34169 /WW Tertanggal 15 April 1955 Dr. Marzoeki Mahdi  membeli sebidang tanah seluas 23,756 Ha dari seorang yang bernama Tuan Sastrawidjaya yang berlokasi di Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua Kewedanaan Lembang Kab. Bandung yang dikuatkan dengan Akte Notaris Tan eng Kiam tanggal 7 Mei 1955.

Sejak tanggal “1 Mei 1955” Rumah Perawatan Orang Sakit jiwa telah memulai kegiatan Operasinya  yang  di Pimpin oleh Dr. G.J. Crans, yang di tunjuk langsung oleh Kementrian Kesehatan RI. Dimana pada waktu itu Dr. G.J. Crans menjabat sebagai Direktur Rumah Perawatan Orang Sakit Jiwa jalan Riau Bandung.

Mengingat belum dibangun gedung baru untuk Rumah Perawatan Orang Sakit Jiwa maka untuk sementara bangunan bekas kandang sapi bekas milik Tuan Eyseling dipakai sebagai bangsal penderita, kantor dan dapur. Dimana pada waktu itu baru dibuka 30 kapasitas tempat tidur, dan Pasien pada waktu itu baru masuk 3 Orang pasien.

Pembangunan fisik dimulai pada tahun 1956 dengan dibangunnya 4 buah bangunan untuk perumahan dinas, dan tahun 1958 dibangun lagi 1 unit bangunan untuk bangsal dan 1 unit untuk dapur, sehingga pada waktu itu kapasitas tempat tidur menjadi 100 TT.

Pada tahun 1959 Rumah Sakit Urat Syaraf Pacet Cianjur diserahkan kepada TNI Angkatan Udara, sebagian Penderita dan Karyawannya dipindahkan ke Rumah Perawatan Sakit Djiwa Cisarua Lembang. Pada tahun itu juga dibangun kembali bangunan - bangunan baru berupa : 3 unit bangunan untuk Zaal, kantor, dapur / wasrey, 2 unit bangunan untuk perumahan dinas, dan 1 unit bangunan watre torn, sedangkan bangunan - bangunan lama bekas kantor Zaal serta dapur dipergunakan untuk perumahan karyawan. Rumah Perawatan Sakit Djiwa Cisarua Lembang sebagai Rumah Sakit Jiwa Cimahi fungsinya semakin berkembang yang tidak lagi semata - mata melakukan perawatan terhadap orang sakit jiwa tetapi sebagai Rumah Sakit Jiwa khusus yang melaksanakan usaha - usaha kesehatan jiwa Intramural dan Extramural. Dengan meluasnya fungsi Rumah Sakit Jiwa maka pada tahum 1980 dibangun kembali 2 unit bangunan rehabilitasi penderita, 1 unit bangunan untuk kantor dan aula dan 2 unit bangunan zaal penderita. Pembangunan sarana dan prasarana fisik RS. Jiwa Cimahi dari tahun ke tahun mulai dikembangkan sesuai dengan target dan tuntutan dari masyarakat atas pelayanan yang diberikan Rumah Sakit, sehingga kapasitas Tempat Tidur yang tecatat sampai saat ini berjumlah 150 TT.

Sejak diberlakukannya Undang – Undang No. 22 Tahun 2001 tentang Otonomi Daerah, maka secara resmi keberadaan Rumah Sakit Jiwa Cimahi yang dulunya dikelola secara langsung oleh Pemerintah Pusat melalui Depertemen Kesehatan Republik Indonesia telah dilimpahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dimana hal tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap keberadaan Rumah Sakit Jiwa Cimahi, baik dari segi pengelolaannya secara administrasi maupun dari segi keuangan.

Walapun keberadaan Rumah Sakit Jiwa Cimahi telah sepenuhnya dikelola oleh Pemerintah Daerah, tapi dalam kegiatannya tidak merubah tugas dan fungsinya, dimana tugas dan fungsi Rumah Sakit Jiwa Cimahi tetap merupakan pusat pelayanan kesehatan jiwa yang menyelenggarakan dan melaksanakan pencegahan, pengobatan, perawatan, pemulihan dan rehabilitasi dibidang kesehatan jiwa. Pada Tahun 2009 dilakukan penggabungan (merger) antara Rumah Sakit Jiwa Bandung dengan Rumah Sakit Jiwa Cimahi menjadi satu Rumah Sakit dengan nama Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat