Pelatihan Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) Tuberkulosis (TB)

Kab Bandung Barat - Jumat (12/11/2021), telah dilaksanakan pelatihan Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) Tuberkulosis (TB). Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Penguatan Program Nasional Penanggulangan TB. Kegiatan pada hari ke 2 ini dibuka oleh Kepala Subbagian PSDM Dewi Ramdiani, S.P., M.M., dan penutupan oleh Wakil Direktur SDM Diklatlitbang H. Saepuloh, A.K.S., M.M.Pd. Narasumber pada kegiatan ini adalah dr. Mirza Alamsyah Rusmana (RS Paru Dr. H. A. Rotinsulu Bandung), Eva Diawati, S.ST. (RS Paru Dr. H. A. Rotinsulu Bandung).

Indonesia merupakan negara dengan triple burden TBC untuk insiden TBC, insiden TBC RO, dan TBC HIV. Pada tahun 2016, Indonesia peringkat 2 di dunia, tahun 2017 menjadi peringkat 3 dengan angka kejadian 842.000 kasus (Kementerian RI). Penularan M.Tb terjadi melalui udara (airborne) yang menyebar melalui partikel percik renik (droplet nuclei). Saat Batuk sekitar 3.000 percikan dahak  0 – 3500 M.Tb. Bersin  4.500 – 1 juta.

Dengan demikian petugas kesehatan yang menangani pasien TB merupakan kelompok risiko tinggi untuk terinfeksi TB. Penularan kuman TB di fasilitas pelayanan kesehatan dari pasien ke petugas kesehatan sudah diketahui sejak lama dan angka kejadiannya terus meningkat. Pada saat ini TB seringkali merupakan penyakit akibat kerja atau occupational disease untuk petugas kesehatan.

Keadaan ini memerlukan perhatian khusus karena akan mempengaruhi kesehatan, kinerja dan produktifitas petugas kesehatan. Sehingga penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) Tuberkulosis (TB) sebagai upaya pencegahan penularan terhadap petugas, pasien dan pengunjung harus selalu dilakukan.

Semoga dengan terlaksananya pelatihan Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) Tuberkulosis (TB) ini para peserta mampu peserta memahami tentang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi TB, mampu menurunkan risiko timbulnya Healthcare Associated Infections (HAIs) terutama risiko transmisi microba yang diakibatkan kontak langsung maupun tidak langsung, dan mampu meningkatkan mutu pelayanan di RS Jiwa Provinsi Jawa Barat.