Mengenal Lebih Jauh Tentang Self Harm

Oleh : Ns.Winda Ratna Wulan.,M.Kep.,Sp.Kep.J

Self-harm adalah suatu bentuk perilaku menyakiti diri sendiri yang dilakukan individu karena permasalahan yang kompleks dan rumit, ingatan yang menyakitkan, atau keadaan yang diluar kendali, sebagai cara untuk mengatasi tekanan secara emosional atau rasa sakit secara psikis yang tidak tertahankkan, dialami oleh individu dengan melukai diri sendiri tanpa berniat untuk melakukan bunuh diri, namun dapat mengancam jiwa individu (Jenny, 2016).”

 

Jenis-jenis Self Harm

Ada beberapa jenis Self Harm menurut Strong (Klonsky dkk, 2011), yaitu :

a. Major Self-Mutilation

Individu melakukan kerusakan yang cukup signifikan dan tidak dapat dipulihkan seperti semula seperti memotong kaki atau mencukil bola mata. Perilaku ini biasanya dilakukan oleh individu yang sedang mengalami psikosis.

b. Stereotypic self-injury

Jenis perilaku self-harm yang tidak terlalu parah namun intensitas dilakukannya lebih berulang. Seperti membenturkan kepalanya ke tembok. Biasanya dilakukan oleh individu yang mengalami gangguan neurologis, seperti autism atau sindrom Tourette.

c. Moderate/superficial self-mutilation

Jenis perilaku self-harm yang paling sering dilakukan oleh individu. Seperti menarik rambut dengan kuat, menyayat kulit dengan menggunakan benda tajam, membakar kulit dan lain sebagainya.

Self harm atau self injury tentunya adalah tindakan yang membahayakan diri sendiri. Pelaku self harm berisiko mengalami cedera yang parah pada bagian tubuhnya, serta bukan tidak mungkin melakukan tindakan yang lebih fatal.

 

Bentuk perilaku self harm

Ada beberapa bentuk self harm atau tindakan menyakiti diri sendiri menurut (Whitlock dkk, 2011) misalnya :

1. Menggaruk atau mencubit dengan kuku atau menggunakan benda tajam lainnya sampai terjadinya pendarahan atau membekas pada kulit.

2. Memotong, merobek, mengukir simbol tertentu pada pergelangan tangan, lengan, kaki, tubuh atau bagian tubuh lainnya.

3. Membenturkan atau memukul diri sendiri hingga memar atau mengalami pendarahan (sadar jika melukai diri sendiri).

4. Menggigit bagian tubuh sampai berdarah atau meninggalkan bekas pada kulit.

5.Menarik rambut dengan kuat, mencabuti bulu mata atau alis dengan niat untuk menyakiti diri sendiri

6. Secara sengaja mencegah penyembuhan luka.

7. Membakar kulit.

8. Menanamkan benda-benda ke dalam kulit.

9. Memasukkan sesuatu dan menyakiti urethra atau vagina.

Tindakan self harm cenderung akan meninggalkan “pola” pada kulit bagian tertentu. Bagian tubuh yang kerap menjadi sasaran self harm yaitu lengan, kaki dan bagian depan torso. Namun tidak menutup kemungkinan ada bagian tubuh lain yang menjadi sasaran self harm.

 

Apa sebenarnya penyebab self harm ?

Menurut (Jans,2012) faktor penyebab individu melakukan perilaku melukai diri sendiri adalah :

1. Faktor mekanisme pertahanan diri dalam strategi coping yang negatif.

2. Masa kecil individu yang mengalami trauma psikologis

3. Kurangnya komunikasi dalam keluarga individu

4. Tidak adanya keharmonisan dan kehangatan dalam keluarga

5. Permasalahan yang terjadi di sekolah

6. Permasalahan dalam hubungan percintaan

7. Permasalahan dengan teman

8. Kejadian buruk yang pernah dialami dan stres dalam menjalani kehidupan

Selain penyebab-penyebab diatas, perilaku self harm juga bisa berkaitan dengan beragam masalah psikologis lain seperti bipolar, depresi, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, serta gangguan obsesif-kompulsif.

 

Karakteristik Self Harm

Terdapat beberapa karakteristik self harm menurut Soesilo 2013, antara lain :

a. Emosi Negatif

Emosi merupakan suatu perasaan intens yang ditujukan langsung baik kepada seseorang maupun terhadap benda. Emosi negatif merupakan konsistensi emosional atau perasaan yang bersifat negatif seperti kecemasan, stres, depresi, tidak percaya diri, gugup dan rasa bosan yang berlebihan. Emosi negatif yang dialami oleh pelaku self-harm memiliki intensitas yang lebih tinggi dibandingkan individu normal lainnya dan menjadi salah satu alasan utama pelaku self-harm.

b. Emotion Skill

Emotion skill merupakan keterampilan dalam mengendalikan emosi atau perasaan. Kesulitan dalam mengendalikan emosi, kesadaran dan diri serta pengalaman traumatik juga dapat mengakibatkan individu melakukan perilaku self-harm. keterampilan dalam mengendalikan emosional yang rendah sangat berpengaruh terhadap munculnya emosi negatif dan mengalami masa disosiasif terhadap diri sendiri. kesulitan-kesulitan ini dapat membuat individu mengalami kebingungan dalam memahami emosinya.

c. Self derogation

Self derogation merupakan suatu kecenderungan untuk meremehkan diri sendiri secara tidak realistis, menertawakan sifat dan tindakan yang telah dilakukan diri sendiri secara tidak realistis. Biasanya hal ini dilakukan ketika individu mengalami depresi atau kecemasan yang berlebihan. Self-derogation sering kali berkaitan dengan depresi mayor.

 

Upaya Pencegahan Self Harm

Self harm dapat dicegah dengan beberapa tindakan, antara lain :

a. Self Talk

Komunikasi intrapersonal atau self talk merupakan dialog yang dilakukan kepada diri sendiri sebagai bentuk release dari masalah yang ada. Self talk sendiri digunakan dalam terapi psikoanalisa dimana pasien akan mengatakan seluruh hal tanpa ada yang ditutupi sehingga pasien dapat melibatkan kognitif dan logis dengan kesadaran sehingga tidak ada penyangkalan yang dilakukan dan didampingi oleh terapis atau keluarga terdekat yang berada di belakang pasien.

Bedanya adalah self talk dapat dilakukan mandiri oleh individu tanpa terapis dengan melibatkan kognitif yang jernih dan berpikir secara logis dengan hasil akhir menemukan titik dimana mereka mendapatkan solusi.

b. Art Theraphy

Merupakan bentuk psikoterapi yang menggunakan media seni, dengan pembuatan karya seni untuk berkomunikasi. Media seni dapat berupa pensil, kapur berwarna, pensil warna (krayon), potong-potongan kertas dan tanah liat. (Adriani dkk, 2011)

Art therapy sebagai salah satu bentuk media katarsis emosi bertujuan agar individu dapat menyalurkan impuls untuk mengurangi perilaku menyakiti diri sendiri yang biasanya dapat disalurkan dalam kegiatan yang lebih positif pada suatu bentuk aestetik yang memberikan kepuasan dalam bentuk gambar. Dengan begitu dapat memunculkan kesadaran diri dan mengekspresikan emosi yang terpendam dalam diri dengan menggunakan proses kreatif, sekaligus memperkuat perilaku koping positif, meningkatkan harga diri dan pengendalian diri. (Nainis, 2006)

c. Self Compassion

Self compassion merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan karena membantu seseorang dalam mengatasi suatu kesulitan dan dapat membantu seseorang berhenti menyalahkan diri sendiri untuk hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. (crocker dkk, 2013)

Self compassion adalah sikap tersentuh dan terbuka atas kesulitan sendiri, bukan menghindari atau melepaskan kesulitan tersebut melainkan memiliki keinginan untuk meringankan kesulitan individu dan menyembuhkan diri sendiri dengan kebaikan. (Amstrong, 2013). Self compassion memiliki 3 aspek yaitu:

  • Self kindness

Suatu komponen untuk menjelaskan kemampuan seseorang dalam memahami suatu kegagalan. Self kindness berisi pernyataan positif bahwa seseorang pantas untuk mendapatkan cinta, kebahagiaan dan kasih sayang walaupun dalam kondisi terburuk, sehingga dapat menciptakan kenyamanan terhadap diri sendiri.

  • Common Humanity

Suatu pengakuan terhadap diri sendiri bahwa tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan dan menyadari akan kegagalan serta kesulitan merupakan suatu hal yang wajar dialami oleh setiap orang.

  • Mindfulness

Suatu komponen mengenai kemampuan seseorang dalam menyeimbangkan pikiran ketika dalam situasi yang menekan atau menimbulkan kesulitan. Mindfulness membantu memberi jalan keluar mengenai kesulitan yang sedang dirasakan, dengan tidak mengkritik dan mengisolasi diri sendiri.

 

                        DAFTAR PUSTAKA

Harefa, I. E., & Mawarni, S. G. (2019, December). Komunikasi Interpersonal (Self Talk) Sebagai Pencegahan Self-Harm Pada Remaja. In Prosiding Seminar Nasional Lp3m (Vol. 1, Pp. 173-178).

Hasmarlin, H., & Hirmaningsih, H. (2019). Self-Compassion Dan Regulasi Emosi Pada Remaja. Jurnal Psikologi, 15(2), 148-156.

Khalifah, S. (2019). Dinamika Self-Harm Pada Remaja (Doctoral Dissertation, Uin Sunan Ampel Surabaya).

Putri, D. A. D. (2020). Dear Me: Sebuah Upaya Untuk Menurunkan Simtom Depresi Melalui Self-Compassion Exercise Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Uin Suska Riau (Doctoral Dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).

Rahmadaningtyas, F., & Pratikto, H. (2020). Efektifitas Self Talk Therapy Pada Perilaku Self Injury. Edu Consilium: Jurnal Bimbingan Dan Konseling Pendidikan Islam, 1(2), 9-20.

Saputra, D. (2019). Penerapan Art Therapy Untuk Mengurangi Perilaku Menyakiti Diri Sendiri (Self-Injurious Behavior) Pada Dewasa Muda Yang Mengalami Distress Psikologis. Inquiry: Jurnal Ilmiah Psikologi, 10(1), 26-40.