“Kenali dan Cegah Bunuh Diri”

 Creating Hope Through Action

 

Disusun Oleh       : dr. Indah Kusuma, SpKJ

                               RSJ Provinsi Jawa Barat

I. Latar Belakang

Bunuh diri merupakan masalah besar di bidang kesehatan dan salah satu alasan tersering seseorang dibawa ke emergensi psikiatri dalam keadaan kritis. Bunuh diri menjadi fenomena yang menyulitkan dan tragis, memberikan dampak buruk kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya. Satu dari tiga penyebab utama kematian pada kelompok umur 15-44 tahun adalah bunuh diri dan menduduki urutan ketiga untuk kelompok umur 10-24 tahun. Sekitar 1.000.000 orang di dunia setiap tahunnya mengalami kematian akibat bunuh diri. Angka kematian akibat bunuh diri di Amerika Serikat pada tahun 2008 lebih dari 38.000 orang dan pada tahun 2009 jumlah kunjungan pasien ke gawat darurat karena melukai diri sendiri sebanyak 347.486 kunjungan.

Laporan dari WHO angka kejadian bunuh diri di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 1,6-1,8 per 100.000 jiwa atau sekitar 5.000 orang per tahunnya. Pada tahun 2012 meningkat sekitar 4,3 per 100.000 jiwa atau sekitar 10.000 orang pertahunnya. WHO memperkirakan pada tahun 2020 angka kejadian bunuh diri secara global mencapai 2,4 per 100.000 jiwa. Kematian akibat bunuh diri semakin meningkat setiap tahunnya sehingga diperlukan pemahaman lebih dalam mengenai penilaian risiko bunuh diri agar dapat dilakukan pencegahan.

Berdasarkan data Sample Registration Survey (SRS) yang dilakukan oleh Badan Litbangkes Kemenkes tahun 2016, diketahui bahwa angka kematian akibat bunuh diri sebanyak 0,72 kasus per 100.000 atau 7 kasus dalam 1.000.000 penduduk. Total kasus kematian akibat bunuh diri dalam 1 tahun sebanyak 1.800 kasus, dimana setiap hari terdapat 5 orang Indonesia yang meninggal karena bunuh diri. Berdasarkan jenis kelamin, korban bunuh diri 29% perempuan dan 71% laki-laki. Cara bunuh diri terbanyak adalah dengan cara gantung diri (60,9%) dimana pada wanita sebesar 23,8% dan laki-laki 76,2%. Cara lainnya antara lain minum racun (27,5%), melukai dengan benda tajam (2,9%), lain-lain seperti terjun/lompat dari ketinggian (8,7%).

Sejak 2020, dunia dihadapkan pada situasi pandemi akibat Covid-19, kondisi ini tidak hanya berdampak pada terganggunya kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental. Berdasarkan studi cross sectional di India tahun 2020, terjadi peningkatan kasus self harm selama diterapkannya kebijakan lockdown sebesar 71,9% dibandingkan sebelum pandemi (44%). Penelitian Pine Rest Christian Mental Health Services memperkirakan terjadi peningkatan kasus bunuh diri sebesar 32% selama pandemi. Kondisi pandemi menyebabkan seseorang mengalami permasalahan dalam pekerjaan, penghasilan, meningkatnya perceraian, kematian anggota keluarga dan penggunaan alkohol dan narkoba yang menyebabkan seseorang menjadi lebih rentan mengalami depresi.

IIPengertian

  1. Risiko Bunuh Diri : Suatu keadaan meningkatnya tendensi untuk melakukan bunuh diri
  2. Ide Bunuh Diri :  Pemikiran tentang menyakiti diri sendiri, dengan pertimbangan atau perencanaan yang disengaja tentang tekhnik yang mungkin menyebabkan kematian seseorang
  3. Tindakan Bunuh Diri :  Tindakan yang meliputi percobaan bunuh diri dan bunuh diri 

III. Faktor Risiko

Faktor risiko terjadinya bunuh diri antara lain : laki-laki, riwayat keluarga dengan gangguan psikiatri, riwayat percobaan bunuh diri, depresi berat, putus asa, penyalahgunaan zat atau alkohol, gangguan cemas, gangguan kepribadian, riwayat bullying.

IV. Tanda dan Gejala

Orang yang terpikir bunuh diri bukan sedang cari perhatian, tapi sedang mencari pertolongan. Namun seringkali stigma dan pandangan negatif masyarakat menjauhkan orang yang butuh bantuan dari pertolongan profesional yang dibutuhkan. Tanda dan gejala seseorang akan bunuh diri antara lain : sering membicarakan tentang kematian, mengutarakan keputusasaannya, perilaku menyakiti diri sendiri, mengancam ingin bunuh diri, menarik diri dari lingkungan dan orang sekitar, kehilangan minat pada banyak hal, sering meminta maaf.

V. Pencegahan Bunuh Diri

Apakah bunuh diri dapat di cegah? Apa yang bisa dilakukan bila menghadapi seseorang yang akan bunuh diri? Sektor apa yang paling berperan dalam pencegahan bunuh diri? Pada dasarnya, bunuh diri dapat dicegah, dan bunuh diri tidak hanya menjadi tanggungjawab sektor kesehatan saja, semua sektor dapat berperan dalam upaya pencegahan bunuh diri.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya bunuh diri antara lain :

a. Mengenali faktor risiko dan tanda-tanda perilaku bunuh diri

Segera hubungi profesional kesehatan mental atau hotline jika anda mendengar, melihat, mengetahui seseorang menunjukkan perilaku :

  • Keputusasaan, kekecewaan, kemarahan yang tidak terkendali
  • Merasa terjebak, seperti tidak menemukan jalan keluar
  • Bertindak impulsif atau terlibat aktivitas berisiko
  • Penyalahgunaan alkohol atau narkoba
  • Menarik diri dari lingkungan, teman, keluarga dan lingkungan sosial
  • Kecemasan dan depresib. 

b. Setelah mengenali tanda bunuh diri, langkah yang dapat dilakukan :

  • Jangan meninggalkan mereka sendirian
  • Singkirkan benda-benda yang berpotensi digunakan untuk mencelakai diri (benda tajam, tali, obat-obatan, cairan insektisida atau desinfektan)
  • Membatasi akses metode bunuh diri, seringkali seseorang yang akan melakukan bunuh diri sebelumnya mencari informasi tentang cara bunuh diri melalui media sosial (youtube, instagram, google dll), mempelajari metode yang akan dilakukan, mencari artikel-artikel tentang bunuh diri
  • Dengarkan mereka, jangan terburu-buru memberi nasehat, berikan empati, berusaha untuk memahami, tenangkan, tanyakan apa yang saat ini dirasakan, tanyakan apa yang paling dibutuhkan saat ini, tanyakan alasan mereka untuk mengakhiri hidup, jangan menyalahkan atau membandingkan masalahnya dengan orang lain
  • Berikan makanan sehat, sarankan untuk istirahat/tidur
  • Sarankan untuk konsultasi ke tenaga profesional (Psikiater, Psikolog)
  • Sarankan untuk olah raga teratur sesuai kemampuan dan lakukan hobby untuk memperbaiki suasana hati
  • Libatkan dalam aktivitas sosial, misal menolong/berbuat baik terhadap orang lain, karena perasaan terbaik akan datang bila mau menolong orang lain, membuat dirinya merasa berharga kembali

c. Mensosialisasikan program pencegahan bunuh diri di sekolah-sekolah, perkantoran dan kelompok-  kelompok yang berisiko bunuh diri, public information dan media kampanye

d. Membuat kebijakan tentang pencegahan bunuh diri dan menyediakan crisis centre

e. Pelatihan terhadap kader, pelajar, pramuka, PMR, Karang Taruna dan organisasi kemasyarakatan lainnya, tokoh masyarakat, tokoh agama. Bunuh diri tidak hanya disebabkan karena lemahnya iman, namun karena gangguan psikologis yang mendasarinya.

Salah satu upaya yang sudah dilakukan RSJ Provinsi Jawa Barat untuk menjaga kesehatan mental masyarakat Jawa Barat dan juga mencegah terjadinya bunuh diri dengan menyediakan layanan crisis center pelayanan kesehatan jiwa di RSJ Provinsi Jawa Barat Cisarua Lembang dengan No telepon 022-27012119 dan Grha Atma Jl. Riau Bandung dengan No telepon 022-20509119, selain itu juga terdapat layanan Kesehatan Jiwa Online (KJOL) melalui whatsapp di nomor 081221292020 dan crisis center bagi pengguna narkoba melalui program SNIRUPA (Stop Narkoba Ingat Rumah Palma) pada nomor 082121121286.