Self Injury

Hembusan angin sore hari menerpa wajahku lewat cel ah jendela kam ar yan g sedikit terbuka, pandanganku terarah keluar dimana langit jingga sore hari seolah mengejek keadaanku yang sangat mendung ini . Aku tersen yum miris kemudi an m engali hkan pandanganku ke arah l antai dimana t erdapat ban yak tetesan darah yang berasal dari kar ya yang berada di t anganku, goresan - goresan luka yang sudah kubuat dengan sebuah cutter . Ini entah sudah keberapa kalinya, dan aku masih belum bisa menghentikkan kegemaranku saat m elampi askan stress ini . Sedikit mendengus aku berj alan ke sebuah cermin yang berada di kamarku, menatap pantulan diriku yang begitu mengerikan dimana aku mendapati salinan diriku sendiri di dalam sebuah kaca full body . Mat aku cekung ke dal am dengan lingkaran mata yang cukup tebal di bawah m t aku, wajahku yang tirus seperti tidak pernah  akan selama sebulan ini , rambutku berantakan dengan beberapa bercak darah di bajuku .

Aku menghela nafas kemudian membuka lemari, memakai jaket untuk menutupi luka - lukaku dan mulai berjalan ke luar kamar han ya untuk bernafas sejenak dari bau anyir yang berada di dalam kamar .

Aku duduk di kelas sebelas, masih sekolah . Berusia 17 tahun, kalau biasanya di usia seperti itu orang - orang akan bahagia d engan aktivitas bersama teman - temannya, maka aku tidak . Hidupku mengerikan . Semua orang menjauhiku karena sudah tahu kalau aku memiliki sebuah penyakit kejiwaan bernama Self Injury dimana aku akan dengan senang hati mengukir luka di tubuhku untuk melampias kan berbagai perasaan . Stress, sedih, amarah, banyak hal yang ingin kulam piaskan, dan caranya dengan menyakiti diriku sendiri .

Hari ini aku memberanikan diri untuk keluar dari rumah, menuju sekolahan yang katanya tempat itu akan memberikan beribu kenangan saat kita dewasa nanti . Tapi aku mulai meragukan hal itu . Aku kesini hanya ingin tahu, hanya ingin merekam tempat ini sebelum aku akan memutuskan untuk keluar sekolah sebentar lagi dan membiarkan diriku menj adi tidak waras sepanj ang hidupku, karena aku su dah t erl alu put us asa dengan nasibku .

Saat aku mel angkahkan kakiku mem asuki area sekolah, aku merasakan angi n sejuk, benar - benar membuatku merasa nyaman dan ingin sekali berada di sini terus menerus . Tapi aku sedikit sadar, ini adalah tempat kedua dimana aku sering mendapat kan t ekana selain di dalam rum ah .

“Kamu si apa? ” mendengar suara itu aku tersent ak dan menoleh ke arah sumber suara .

“A - aku — ”

“Eh aku kenal kam u, kamu Lalita kan? Kelas sebelas yang katanya punya err — sorry gila itu kan? ” pertanyaan dari laki - laki itu membuat hatiku sedikit teriris

Gila . Sebuah kata yang sudah menjadi nama belakangku . Lalita Gila .

Aku berdehem pelan lalu mengangguk m engi yakan, itu memang julukanku .

“Itu hanya pemi kiran kolot . ” Dengusan itu membuat ku mengerutkan kening, ia kemudi an mengambil ruang untuk duduk di sisiku karena saat ini aku tengah terduduk di bangku t aman sekolahan

Aku terdiam, lalu tersenyum sedikit . Aku baru bertemu dengan orang yang memiliki pandangan beda seperti dia . Kalau yang lainnya bertemu denganku, mereka pasti akan takut dan mengataiku psikopat karena aku selalu melukai diriku, tapi dia ternyata terlihat biasa saja dan terkesan santai .

“Mereka mengataimu gila karena mereka kurang pengetahuan . ” Ucap laki - laki yang kulihat dari badge name - n ya dia bernama Arga .

“Kamu enggak gila, kamu hanya memiliki gangguan mental yang tidak orang lain miliki . Dan itu menurut aku bukan sesuatu yang harus dijadikan bahan alasan untuk jauhin kamu atau alasan untuk ngatain kamu gila . ” Ucapnya panjang lebar

“Kamu gak takut sama aku? ” tanyaku mulai berani berbicara setelah membiarkan dia berbicara dengan kalimat panjangn ya

“Untuk alasan apa aku takut sama kamu?” tanyanya

Aku mengangkat bahuku “Ya, seperti kata orang - orang yang mengat akan aku gila . Mereka takut padaku dan m encap di riku sebagai psikopat, mereka takut aku juga akan nyakitin m ereka . ”

Arga tersenyum “ Itu pemikiran kolot, mereka gak tau, mereka itu sok tau . ” Ucapnya sem bari terkekeh, menularkan kekehann ya padaku

“Setahu aku, pen ya kit kamu itu han ya menyakiti diri sendiri, bukan orang lain . Kamu bukan psikopat . ” Ucap Arga lagi

“Makasih . ” Ucapku

Aku baru kali ini bertemu dan berbicara dengannya karena saat di sekolah aku t k pernah berani menunjukkan diri , yang kulakukan hanya terdiam di toilet, mendekam diriku dan terkadang aku melukai diriku sendiri di tempat itu .

Dia baik, saat berbicara dengannya aku seperti sudah dekat . Pembawaann ya yang santai dan bersahabat membuatku nyaman . Oh, bolehkah aku si pemilik penyakit kejiwaan Self Injury ini berharap memiliki teman?

Untuk kata - katanya . ” Lanjutku

Dia tersenyum kemudian berdiri, memposisikan diri nya berada di hadapanku, dia mulai mengulurkan tangannya

“Hai, aku Arga . ” Ucapnya memperkenal kan diri , aku menyambutnya dengan tanganku

Aku tersenyum sembari mengangkat alisku . Dia menyenangkan . Dia membuat rasa takut dalam hatiku hilang dan menjalar entah kemana, dia membuatku menjadi sedikit percaya diri .

 “Sampai jumpa di sekolah, Lalita . ” Setelah mengatakan hal itu dia pergi keluar dari gerbang sekolah bersama dengan bola basket di tangannya yang sedari tadi dia pegang . Melihat dia dan mengingat tentang ucapann ya tadi aku jadi tahu satu hal bahwa tidak semua orang memiliki pikiran buntu yang selalu m enganggap sebuah penyakit kejiwaan itu adal ah sesuat u yang mengerikan .

Esoknya aku berangkat ke sekol ah dengan sisa keberani anku yang m enipis, hari ini aku sangat gugup sekali . Takut dengan respon orang - orang, mengingat terakhir sekolah aku ditakuti oleh orang - orang karena aksiku yang melukai diriku sendiri diketahui , mereka menjerit saat aku ikut menjerit dan menjambak diriku sendiri .

Pukul 06:00 aku berangkat ke sekolah, di sana aku mulai mendapatkan tatapan - t tapan heran dan ketakutan dari orang - orang bahkan ada beberapa orang yang terang - terangan mencibirku .

Saat aku berjal an dengan kepala menunduk aku merasakan seseorang berjalan di sampingku, dia Arga, laki - laki itu tersenyum kepadaku, sebuah senyum meyakinkan yang membuat hati ku menjadi menghangat .

“Ga, jauh - jauh dari dia! dia itu psikopat . Gimana kalo nant i lo dibunuh? ” kalimat yang keluar dari mulut seorang siswi yang ku ketahui bernam a Regina m embuat hat iku mencelus, m ereka tidak seperti Arga yang memiliki pemikiran bahwa aku bukan psikopat .

Arga menghela nafas, kemudian menatap sekeliling kami dengan tatapan lelah . Kini aku dan dia tengah berada di koridor dan semua orang menatap kami dengan berbagai ekspresi .

“Gue mohon, buang pemikiran kuno kalian . Buang pemikiran - pemikiran kalau dia itu psikopat . ” Ucap Arga

“Gue gak t au kenapa kalian beranggapan seperti itu, padahal dia gak pernah men yakiti kita . ” Lanjut Arga

Aku terdi am sembari meremas j ari - jariku yang m ulai berkeringat  

“Tapi dia meresahkan kami, Ga . ” Sahut salah seorang siswa yang entah namanya si apa aku tidak tahu . Yang jelas rambutnya keriting .

“Kalian gak akan merasa resah kalau kalian mensugesti diri kalian sendiri untuk gak resah, dia gak berbaha ya . Dia hanya memiliki penyakit mental yang disebabkan karena tekanan . ” Jelas Arga “Dia itu butuh dukungan kalian, dia butuh dukungan kita untuk sembuh . ” Ucap Arga l agi 

Aku makin bergerak tak karuan karena saking gelisahnya, ingin aku lari dari sini tapi Arga mencekal pergelangan tanganku .

“Mulai sekarang gue mau kalian hilangkan pemikiran aneh kalian, berhenti berpikiran kalau dia berbahaya . Kita sama - sama bantu dia untuk sembuh, kita sama - sama bantu dia untuk bangkit . Dia butuh kita, dia butuh support kita,” ucap Arga m enggebu - gebu, bahkan aku seperti melihat api semangat dalam dirinya “j angan sampai karena tekanan dari kita bikin dia sampai kehilangan kendali, bukan hanya kulitnya saja yang diiris tapi urat nadin ya . Apa yang akan kalian rasakan kalau itu terjadi sama kalian? ”

Semua orang yang ada di sana terdiam, mereka seperti memikirkan sesuatu . Ucapan Arga benar - benar membuat mereka berpik r — begitu yang kutangkap dari ekspresi mereka .

“Oke, lo udah ubah pemikiran kami , Ga . ” Ucap si siswa berambut keriting tadi “kita bantu teman kita, Lalita butuh dukungan, bukan tekanan . Lalita butuh penyemangat, bukan cibiran . dia gak gila, dia bukan psikopat, dia hanya lebih istimewa dari kita . ” Si keriting berkata panjang lebar, aku melihat badge name - nya . dia bernama Ramlan .

Oke Ramlan, entah kenapa aku jadi terharu karena ucapanm u . Sekarang aku benar - benar menangis . Semua orang sudah t ersen yum ke arahku, mereka tidak lagi mencibirku, mereka benar - benar tersen yum, tersenyum, sebuah pemandangan yang membuatku benar - benar menangis . Aku semakin sesenggukan ketika merasakan satu persatu pelukan di tubuhku .