STIGMA YANG SALAH ADALAH PEMBUNUH

Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku yang secara klinis dan berkaitan dengan stress. Menurut sebuah website, terdata bahwa penyakit ini ternyata diderita oleh 43, 8 juta orang di Amerika atau 1 dari 5 orang dewasa. Ada 6% orang di Indonesia dengan gejala depresi dan kecemasan serta 400.000 penderita skizofernia.

Secara umum, masyarakat Indonesia berpandangan bahwa gangguan jiwa adalah gila. Jadi, masyarakat Indonesia pada umumnya hanya menganggap bahwa ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) adalah orang – orang yang berada di rumah sakit jiwa saja, padahal gangguan jiwa bisa menyerang siapa saja, bahkan orang – orang di sekitar kita.

Kenapa bisa sampai ada orang – orang dengan gangguan jiwa? Sebenarnya, itu semua berawal dari stigma yang salah di lingkungan masyarakat Indonesia. Orang – orang memiliki stigma dimana gangguan jiwa sama saja dengan gila. Dan mereka yang sedang atau telah merasakan gejala – gejala gangguan jiwa enggan untuk berobat karena takut dikatakan “gila”. Padahal gangguan jiwa akan lebih mudah untuk diobati apabila mereka mau mencari tahu lebih dini mengenai apa yang mereka rasakan. Gangguan jiwa yang paling ringan adalah merasa cemas atau sedih.

Gangguan jiwa atau stress itu bukan gila. Dalam menjalani rutinitas pastilah kita pernah mengalami stress atau depresi yang luar biasa karena kesibukan sehari – hari. Tentu yang merasakan hal tersebut tidak dapat disebut gila.

Sangat miris ketika saya melakukan riset terhadap orang – orang yang berada di lingkungan sekitar saya dan bertanya, apa yang akan mereka lakukan jika mempunyai masalah besar yang menimpa mereka? Sebagian besar menjawab, mereka hanya akan menyimpannya untuk diri mereka sendiri karena mereka terlalu takut untuk mengatakan apa yang mereka rasakan kepada orang di sekitarnya. Bahkan ada yang memilih untuk diam dan menunggu orang lain mengerti dengan sendirinya, atau yang paling parah membiarkan dan melupakan masalah tersebut begitu saja.

Inilah salah satu alasan terbesar mengapa jumlah ODGJ di dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi dengan semakin cepatnya perubahan dan globalisasi di zaman sekarang, membuat para pengidap gangguan jiwa semakin banyak. Data – data statistic mengenai jumlah ODGJ tidak sepenuhnya tepat karena realitanya jumlah ODGJ yang tidak terdeteksi lebih banyak lagi. Mereka terlalu takut untuk mengungkapkan perasaan mereka.

Apabila gejala – gejala seperti merasa cemas, takut yang berlebihan, rasa sedih yang berkelanjutan, yang sudah mengganggu kegiatan saat beraktivitas atau bersosialisasi, maka itu sudah disebut sebagai ‘gangguan jiwa’. Hal tersebut tidak akan terlihat jelas karena biasanya orang lain hanya akan mengatakan bahwa yang kita rasakan adaah ‘lelah’, ‘jenuh’ atau ‘galau’. Padahal bisa jadi semua itu lebih serius dari yang kita bayangkan.

Saya adalah salah satu mantan pengidap gangguan jiwa. Memang benar bahwa pada awalnya, saya malu mengakui bahwa saya adalah ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Saya mengalami depresi akut, sedih yang terus menerus, kelelahan tanpa alas an, aktivitas terganggu, dan itu semua saya anggap hanya sebagai bentuk perubahan hormon wanita yang drastis.

Nyatanya, lebih parah dari itu. Meskipun saya tipe orang yang dengan mudah mengatakan apa yang saya rasakan kepada orang lain, saya tidak seberani itu mengungkapkan masalah apa yang saya hadapi. Bahkan lebih parahnya lagi, saya adalah orang yang sering dipilih sebagai tempat orang – orang di sekitar saya untuk menceritakan masalah mereka. Secara otomatis, apabila ada salah satu masalah mereka yang tidak dapat saya bantu, pikiran saya jadi terbebani dengan masalah – masalah mereka. Dan hal itu semakin membuat saya depresi. Saya hanya menganggap spele hal tersebut, dan tetap menanam stigma yang salah, rasa malu untuk mengakui bahwa saya mendalami gangguan jiwa.

Semua stigma yang salah ini adalah penyebab paling utama yang membuat gejala – gejala gangguan jiwa tidak disadari oleh para penderitanya, yang kemudian akan semakin berat bahkan berujung pada bunuh diri. Atas dasar tersebut, alangkah baiknya kita merubah stigma kita terhadap Gangguan Jiwa maupun ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) itu sendiri. Jangan malu saat kita sudah mengalami gejala – gejala gangguan jiwa. Datanglah ke psikiater dan ahlinya, karena dengan begitu, gangguan jiwa akan dapat ditangani lebih mudah.

Bagaimana dengan stigma orang – orang awam terhadap para ODGJ itu sendiri?

Mengubah stigma orang lain terhadap ODGJ memang tidaklah mudah. Sebagian besar masih merasa takut atas keberadaan para ODGJ karena dianggap membahayakan. Padahal tidak semua ODGJ dapat ‘membahayakan’ lingkungan sekitarnya. Mereka yang berlaku seperti itu adalah ODGJ yang megalami masalah yang benar - benar berat dan tidak mampu menghadapinya dengan baik. Dan memang orang yang mengalami gangguan jiwa akut atau ‘aktif’ tersebut sebaiknya ditempatkan di lingkungan yang berbeda bersama ahlinya supaya mendapatkan penanganan intensif dan lebih serius. Sisanya, mereka sama seperti kita dan kita tidak berhak mencaci maki, atau bahkan menjudge mereka karena kita tidak tahu masalah seperti apa yang mereka hadapi.

Orang – orang dengan gangguan jiwa akut lebih rentan melakukan suatu hal ekstrim sebagai bentuk menarik perhatian orang – orang di sekitarnya, jadi jangan kaget jika mereka antusias apabila dekat dengan kita atau senang melihat orang – orang di sekitarnya. Menurut pengalaman seseorang yang orang dekatnya mengalami gangguan jiwa, sebaiknya mereka jangan diacuhkan begitu saja karena bisa jadi mereka malah melakukan hal – hal ekstrim atau memakan sesuatu yang tidak seharusnya dimakan. Orang – orang seharusnya diberi pengertian bahwa mereka, para ODGJ, juga ingin merasakan hidup normal layaknya orang biasa, hanya saja sulit karena keadaan mentalnya yang tidak sama dengan kita.

Dan pada akhirnya, jika kita memilki masalah yang berat, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mendekatkan diri pada Tuhan dan pelan – pelan mencoba berbicara dan mengungkapkan apa yang kita rasakan kepada orang lain yang dapat kita percaya. Setidaknya, meski masalah yang kita milki tidak terpecahkan, kita merasa lega karena sudah berbagi perasaan dengan orang lain.

Mari kita perlahan mengubah stigma terhadap penyakit gangguan jiwa maupun penderitanya. Apabila sulit mengubah stigma dan presepsi orang lain mengenai hal tersebut, setidaknya kita tidak memiliki stigma yang salah akan hal itu. Karena stigma yang salah dapat membunuh orang banyak, bahkan orang – orang yang berada di sekitar kita.