Sepersekian Menit Sebelum Senja

#kampanyekesehatanjiwa #antistigmaodgj #antibullying #HKJS2018 #HKN2018

Gulita tengah merambah menyusuri relung jiwa. Gundah berkelana mengiringi tiap pijakan bumi. Kala menjelang senja, angkasa dipenuhi asa yang sia-sia. Andaikan hidup semudah lenyap dalam jubah ajaib, sebebas mengelilingi dunia dengan mesin waktu. Namun, bukan itu yang menyebabkan semesta tertawa terpingkal-pingkal. Ini percakapan akan asa dan sepersekian waktu sebelum senja.

Pancaran mentari tak pula menyoroti gelap hatinya. Sepersekian menit sebelum senja, Asa kembali berdiam di tempat biasanya. Menyaksikan hal yang tak seharusnya menjadi tontonannya. Gadis itu datang kembali, tepat sepersekian menit sebelum senja menyelimuti permukaan semesta. Wajah layu dan tatapan kosongnya kian melarutkan Asa kedalam kegelapan teramat syahdu.

Sepersekian menit sebelum senja, Asa melihat gadis itu tersenyum ria. Bukan karena gila, namun kiranya mungkin esok ia tak dipertemukan dengan senja. Namun senyum manisnya lenyap dalam sepersekian detik sebelum lembayung senja bertengger di jagad raya. Seketika 4 orang sebayanya tertawa terpingkal-pingkal sembari memukuli gadis itu. Asa ingin berteriak, namun tenggorokkannya terasa cekat, ia ingin berlari menghadangnya, namun gravitasi seakan menahannya.

Sepersekian menit setelah gelap menggulungkan tikarnya di seluruh cakrawala, Asa melihat 4 orang itu beranjak pergi, dengan punggung bergetar menahan tawa wajah tak berdosa, meninggalkan gadis itu dengan punggung bergetar menahan tangis, mengatupkan bibirnya agar tak ada satupun mendengar isak tangisnya. Dengan pakaian lusuhnya, bekas air mata di pelipisnya, ia tertatih-tatih meninggalkan senja yang telah berganti rembulan.

Keesokannya, sepersekian menit sebelum senja. Asa kembali bersembunyi dibalik rimbunnya semak belukar, tak lama kemudian gadis itu muncul kembali. Namun, Asa masih tak cukup berani untuk menghampirinya. Sepersekian menit sebelum senja, ia tersenyum kembali. Kali ini diiringi alunan lagu dari handphonenya, lembut, menghanyutkanku kedalam lamunan penuh sendu dan gundah. Sepersekian menit sebelum senja, keempat orang itu datang membawa nestapa, tatapannya tak kalah mengerikannya dengan penjahat dalam buku cerita.

Mereka menggiring gadis itu ke sebuah lorong gelap, di sanalah tempat sepi tanpa orang berlalu lalang. Asa membuntuti mereka kala itu, namun tak juga ia berani menampakkan diri.

Sepersekian menit sebelum senja lainnya, Asa kembali bersembunyi di tempat biasanya. Namun kini setelah lembayung senja menyemburat tak pula gadis itu datang. Bahkan ke-empat orang itu pun tak nampak batang hidungnya. Asa di kala itu berfikir ada baiknya ia berhenti mencari tahu masalah yang bukan pentingnya.

2 minggu berlalu begitu saja, Asa tak lagi kembali ke tempat gadis itu. Ia merasa melebihi intensitas seharusnya mengetahui urusan orang. Sepersekian menit sebelum senja, Asa melalui kembali tempat itu, ia mendudukkan tubuhnya di kursi dimana seharusnya gadis itu berdiam diri. Asa menundukkan kepalanya, lembutnya angin kala itu dan hangat temaram sinar mentari menghangatkan tubuhnya. Seketika itu, bayangan hitam membuatnya terperanjat. Rupanya ada seorang gadis duduk di sampingnya sembari tersenyum manis.

“ Senja itu memang layak di lihat ya.”

Asa tak bergeming, ia masih memikirkan maksud ucapan gadis tadi.

“Senja mengajarkan kita bahwa tak semuanya indah, karena apapun harus biasa dengan perubahan. Namun siapa sangka perubahan macam apa yang akan kita dapatkan.”

Gadis itu tersenyum dan pergi dari situ. Pembicaraan singkat namun membingungkan bagi Asa. Karena hari mulai gelap Asa pun memutuskan kembali ke rumahnya. Keesokan harinya sepersekian menit sebelum senja lagi ia mencoba bersembunyi di balik rimbunan biasanya, kali ini terbesit kuat keinginan membela gadis itu bila ke-empat orang itu memgolok-oloknya lagi. Namun sepersekian menit setelah senja menghilang dari tahtanya, tak satupun dari mereka menampakan batang hidungnya.

Sepersekian menit sebelum senja lagi, Asa kembali ke tempat yang sama, masih membawa asa yang bergelora dalam jiwanya seperti kemarin. Namun lagi-lagi usahanya tak membuahkan hasil. Tak satupun orang datang ke tempat itu. Berhari-hari Asa kembali kesana, sepersekian menit sebelum senja. Namun tiap harinya Asa hanya menemukan kekosongan yang tak seperti biasanya.

Kala pagi bertukar siang silih berganti, Asa mendengar kabar. Tepat sepersekian menit sebelum senja. Dalam surat kabar yang ia genggam erat-erat, terpampang jelas sebuah berita mengekang seluruh asa dalam jiwanya. Tertera jelas, seorang siswa meninggal dunia sebab

depresi dan tekanan mental yang didapatnya akibat dibully sebagai berita utama. Tubuh Asa terkulai lemas, kedua pelipisnya dibanjiri air mata. Jika saja sepersekian menit sebelum senja usai ia rela memberanikan dirinya membela gadis itu, pasti takdirnya akan berbeda. Seandainya waktu itu Asa tak hanya menjadi penonton, taktala hidup gadis itu tak akan berakhir kelam. Dalam berita itu tercatat pula ke-empat siswa pelaku pembullyan terhadapnya.

Kala ia memperjuangkan asa untuk gadis itu, ini akhirnya. Ia terbelenggu takut membela kebenaran yang seharusny diperjuangkan sejak awal. Kala itu, seperekian menit sebelum senja usai, bukan hanya senja yang tenggelam, namun Asa yang ikut tergulung ombak kepedihan, tenggelam dalam lautan kesedihan penuh penyesalan.